ilmu tafsir al-quran
Kamis, 20 Maret 2014
al quran
FUNGSI DAN POKOK-POKOK KANDUNGAN AL-QUR’AN
with No Comments
۱٫ Fungsi Al-Qur’an
Fungsi utama Al-Qur’an adalah sebagai petunjuk bagi umat manusia dan mukjizat bagi kerasulan Muhammad saw. Al-Qur’an memberikan aturan-aturan keagamaan yang menjadi petunjuk bagi umat manusia untuk mencapai kebahagiaan hidup di dunia dan di akhirat. Sebagai mukjizat, Al-Qur’an diturunkan oleh Allah untuk menjadi bukti kebenaran kerasulan Muhammad saw terutama bagi para penentang dakwah-dakwah beliau.
Fungsi Al-Qur’an sangat penting bagi kehidupan umat Islam. Ia bukan sekedar kitab bacaan biasa tetapi adalah buku suci yang menjadi pedoman dalam segala urusan kehidupan umat Islam di dunia. Ia menjadi rujukan utama ketika umat Islam ingin membangun formulasi hukum, etika, politik, sosial-kemasyarakatan dan sebagainya.
Untuk lebih mempermudah memahami fungsi-fungsi Al-Qur’an berikut adalah beberapa ayat Al-Qur’an yang menjelaskan fungsinya bagi kehidupan umat Islam.
a. Sebagai petunjuk dari Allah swt kepada manusia
Allah berfirman:
2:185. (Beberapa hari yang ditentukan itu ialah) bulan Ramadan, bulan yang di dalamnya diturunkan (permulaan) Al Qur’an sebagai petunjuk bagi manusia dan penjelasan-penjelasan mengenai petunjuk itu dan pembeda (antara yang hak dan yang batil)….”
b. Sebagai bukti (mukjizat) kebenaran risalah Nabi Muhammad saw.
Allah berfirman:
7:203. Dan apabila kamu tidak membawa suatu ayat Al Qur’an kepada mereka, mereka berkata: “Mengapa tidak kamu buat sendiri ayat itu?” Katakanlah: Sesungguhnya aku hanya mengikut apa yang diwahyukan dari Tuhanku kepadaku. Al Qur’an ini adalah bukti-bukti yang nyata dari Tuhanmu, petunjuk dan rahmat bagi orang-orang yang beriman.
c. Sebagai pemisah antara yang Haq dan yang Bathil
Allah berfirman:
2:185. (Beberapa hari yang ditentukan itu ialah) bulan Ramadan, bulan yang di dalamnya diturunkan (permulaan) Al Qur’an sebagai petunjuk bagi manusia dan penjelasan-penjelasan mengenai petunjuk itu dan pembeda (antara yang hak dan yang batil)….”
d. Sebagai obat bagi penyakit-penyakit hati
Allah berfirman:
10:57. Hai manusia, sesungguhnya telah datang kepadamu pelajaran dari Tuhanmu dan penyembuh bagi penyakit-penyakit (yang berada) dalam dada dan petunjuk serta rahmat bagi orang-orang yang beriman.
e. Sebagai nasihat bagi orang-orang bertaqwa
3:138. (Al Qur’an) ini adalah penerangan bagi seluruh manusia, dan petunjuk serta pelajaran bagi orang-orang yang bertakwa.
f. Sebagai pembenar kitab-kitab terdahulu
Allah berfirman:
35:31. Dan apa yang telah Kami wahyukan kepadamu yaitu Al Kitab (Al Qur’an) itulah yang benar, dengan membenarkan kitab-kitab yang sebelumnya. Sesungguhnya Allah benar-benar Maha Mengetahui lagi Maha Melihat (keadaan) hamba-hamba-Nya.
2. Pokok-pokok Kandungan Al-Qur’an
Al-Qur’an merupakan kitab suci agama Islam yang mempunyai fungsi utama sebagai petunjuk bagi manusia dalam menjalani kehidupan di bumi, sebagaimana dalam firman Allah:
2:185. (Beberapa hari yang ditentukan itu ialah) bulan Ramadan, bulan yang di dalamnya diturunkan (permulaan) Al Qur’an sebagai petunjuk bagi manusia dan penjelasan-penjelasan mengenai petunjuk itu dan pembeda (antara yang hak dan yang batil)….”
Sebagai petunjuk bagi kehidupan manusia, Ak-Qur’an memuat pesan-pesan yang dapat dijadikan sebagai sandaran bagi manusia dalam segala aspek kehidupannya. secara umum, kandungan ayat-ayat Al-Qur’an dapat dipetakan menjadi beberapa tema pokok dibawah ini :
a. Aqidah
Salah satu yang menjadi pokok pembahasan ayat-ayat Al-Qur’an adalah masalah aqidah. Aqidah merupakan dasar penting dalam agama Islam. Secara bahasa Aqidah berasal dari bahasa Arab: al-’aqdu (ikatan), at-tautsiq (kepercayaan atau keyakinan yang kuat), al-qhkam (mengukuhkan atau menetapkan) dan ar-rabthu bi quwwah (mengikat dengan kuat). Adapun secara istilah Aqidah dapat didefinisikan sebagai iman yang teguh dan pasti yang tidak ada keraguan sedikitpun bagi orang yang meyakininya. Jadi dapat dipahami bahwa aqidah merupakan ilmu yang menjarkan kepada manusia mengenai kepercayaan yang wajib diyakini oleh setiap orang. Al-Qur’an mengajarkan aqidah tauhid kepada manusia, yaitu menanamkan keyakinan terhadap keesaan Allah swt.
Selain kepercayaan dan keimanan kepada Allah swt, Al-Qur’an juga mengajarkan manusia hal-hal yang ghaib, para rasul dan kepercayaan terhadap kitab-kitab terdahulu sebagai bagian dari kesempurnaan keimanan seseorang. Dalam Al-Qur’an banyak sekali ayat-ayat yang berbicara mengenai pokok-pokok aqidah yang harus diyakini setiap orang yang beriman. Allah berfirman:
35:3. Hai manusia, ingatlah akan nikmat Allah kepadamu. Adakah pencipta selain Allah yang dapat memberikan rezeki kepada kamu dari langit dan bumi? Tidak ada Tuhan (yang berhak disembah) selain Dia; maka mengapakah kamu berpaling (dari ketauhidan)?
2:177. Bukanlah menghadapkan wajahmu ke arah timur dan barat itu suatu kebajikan, akan tetapi sesungguhnya kebajikan itu ialah beriman kepada Allah, hari kemudian, malaikat-malaikat, kitab-kitab, nabi-nabi dan memberikan harta yang dicintainya kepada kerabatnya, anak-anak yatim, orang-orang miskin, musafir (yang memerlukan pertolongan) dan orang-orang yang meminta-minta; dan (memerdekakan) hamba sahaya, mendirikan salat, dan menunaikan zakat; dan orang-orang yang menepati janjinya apabila ia berjanji, dan orang-orang yang sabar dalam kesempitan, penderitaan dan dalam peperangan. Mereka itulah orang-orang yang benar (imannya); dan mereka itulah orang-orang yang bertakwa.
b. Ibadah
Tema pokok kandungan Al-Qur’an selanjutnya adalah ibadah. Secara bahasa, ibadah berarti taat, tunduk dan ikut. Dalam bahasa syar’i ibadah diartikan sesuatu yang diperintahkan Allah sebagai syariat, bukan karena adanya keberlangsungan tradisi sebelumnya atau karena tuntutan logika atau akal manusia. Ibadah adalah segala bentuk ketaatan yang dijalankan atau dikerjakan untuk mendapatkan ridha dari Allah swt.
Al-Qur’an menjelaskan bentuk-bentuk ibadah dasar yang harus dikerjakan oleh setiap muslim, seperti mengucapkan dua kalimat syahadat, shalat lima waktu, membayar zakat, puasa pada bulan suci Ramadhan dan beribadah haji bagi yang telah mampu menjalankannya. Namun Al0Qur’an tidak menjelaskan secara terperinci mengenai tata cara pelaksanaan ibadah-ibadah tersebut. Al-Qur’an hanya menjelaskan bahwa setiap ibadah harus benar-benar ikhlas ditujukan kepada Allah swt.
Allah berfirman:
6:162. Katakanlah: “Sesungguhnya salat, ibadah, hidup dan matiku hanyalah untuk Allah, Tuhan semesta alam,
c. Akhlak
Tema pokok Al-Qur’an selanjutnya adalah mengajarkan akhlak. Dalam bahasa Arab, akhlak bentuk jamak dari khulqu yang artinya perangai, tabiat dan adab. Dalam agama Islam, akhlak merupakan tolak ukur derajat seseorang. Dalam Al-Qur’an dikatakan bahwa keimanan seseorang tidaklah cukup hanya dengan sekedar iman kepada Allah, Malaikat, Nabi-nabi dan lainnya Akan tetapi keimanan harus disertai dengan akhlak dan perilaku yang baik.
Allah berfirman:
6:90. Sesungguhnya Allah menyuruh (kamu) berlaku adil dan berbuat kebajikan, memberi kepada kaum kerabat, dan Allah melarang dari perbuatan keji, kemungkaran dan permusuhan. Dia memberi pengajaran kepadamu agar kamu dapat mengambil pelajaran.
16:91. Dan tepatilah perjanjian dengan Allah apabila kamu berjanji dan janganlah kamu membatalkan sumpah-sumpah (mu) itu, sesudah meneguhkannya, sedang kamu telah menjadikan Allah sebagai saksimu (terhadap sumpah-sumpah itu). Sesungguhnya Allah mengetahui apa yang kamu perbuat.
16:92. Dan janganlah kamu seperti seorang perempuan yang menguraikan benangnya yang sudah dipintal dengan kuat, menjadi cerai berai kembali, kamu menjadikan sumpah (perjanjian) mu sebagai alat penipu di antaramu, disebabkan adanya satu golongan yang lebih banyak jumlahnya dari golongan yang lain. Sesungguhnya Allah hanya menguji kamu dengan hal itu. Dan sesungguhnya di hari kiamat akan dijelaskan-Nya kepadamu apa yang dahulu kamu perselisihkan itu.
d. Hukum
Salah satu tema yang banyak dibahas dalam ayat-ayat Al-Qur’an adalah hukum. Dalam Al-Qur’an termuat hukum-hukum yang mengatur tentang masalah-masalah yang ada pada seluruh aspek kehidupan manusia, Misalnya, hukuman bagi pembunuh, Allah berfirman :
17:33. Dan janganlah kamu membunuh jiwa yang diharamkan Allah (membunuhnya), melainkan dengan suatu (alasan) yang benar. Dan barang siapa dibunuh secara lalim, maka sesungguhnya Kami telah memberi kekuasaan kepada ahli warisnya, tetapi janganlah ahli waris itu melampaui batas dalam membunuh. Sesungguhnya ia adalah orang yang mendapat pertolongan.
Namun tidak semua aturan hukum yang ada dalam Al-Qur’an sudah terperinci. Kadang Al-Qur’an hanya menyebutkan prinsip-prinsip dasarnya saja. Misalnya Allah menyatakan keharaman darah dan bangkai secara mutlak dan umum.
5:3. Diharamkan bagimu (memakan) bangkai, darah,…”
Kemudian Nabi saw men-taqyidkan (memberi persyaratan) kemutlakannya dan mentaksiskan (memberi ketentuan khusus) atas keharamannya serta menjelaskan macam-macam bangkai dan darah. Sebagaimana sabda Nabi saw:
“Dihalalkan bagi kita dua macam bangkai dan dua macam darah. Adapun macam bangkai itu adalah bangkai ikan dan bangkai belalang sedang dua macam darah itu adalah hati dan limpa.” (H.R.Ibnu Majah dan Hakim)
e. Tadzkir (Peringatan)
Al-Qur’an sebagai kitab petunjuk juga berisi peringatan-peringatan kepada manusia. Hal ini sebagaimana ditegaskan dalam salah satu ayatnya :
25:1. Maha Suci Allah yang telah menurunkan Al-Furqaan (Al Qur’an) kepada hamba-Nya, agar dia menjadi pemberi peringatan kepada seluruh alam
Mengenai isi peringatan-peringatannya, Al-Qur’an misalnya memberikan peringatan berupa ancaman akan siksa neraka bagi mereka yang mendustakan Allah dan utusannya. Allah berfirman :
5:33. Sesungguhnya pembalasan terhadap orang-orang yang memerangi Allah dan Rasul-Nya dan membuat kerusakan di muka bumi, hanyalah mereka dibunuh atau disalib, atau dipotong tangan dan kaki mereka dengan bertimbal balik, atau dibuang dari negeri (tempat kediamannya). Yang demikian itu (sebagai) suatu penghinaan untuk mereka di dunia, dan di akhirat mereka beroleh siksaan yang besar,
Selain pemberi peringatan Al-Qur’an juga memberikan kabar gembira bagi orang-orang yang beriman kepada Allah swt dengan balasan berupa nikmat surga. Allah berfirman :
19:97. Maka sesungguhnya telah Kami mudahkan Al Qur’an itu dengan bahasamu, agar kamu dapat memberi kabar gembira dengan Al Qur’an itu kepada orang-orang yang bertakwa, dan agar kamu memberi peringatan dengannya kepada kaum yang membangkang.
f. Sejarah atau Kisah
Al-Qur’an juga berisi kisah-kisah mengenai orang-orang yang terdahulu baik yang mengalami kebinasaan akibat tidak taat kepada Allah swt ataupun kisah-kisah orang yang mendapatkan kejayaan karena ketaatannya kepada Allah swt. Kisah-kisah tersebut agar bisa menjadi pelajaran bagi orang-orang yang sesudahnya. Allah berfirman :
11:100. Itu adalah sebahagian dari berita-berita negeri (yang telah dibinasakan) yang Kami ceritakan kepadamu (Muhammad); di antara negeri-negeri itu ada yang masih kedapatan bekas-bekasnya dan ada (pula) yang telah musnah.
11:120. Dan semua kisah dari rasul-rasul Kami ceritakan kepadamu, ialah kisah-kisah yang dengannya Kami teguhkan hatimu; dan dalam surat ini telah datang kepadamu kebenaran serta pengajaran dan peringatan bagi orang-orang yang beriman.
20:99. Demikianlah Kami kisahkan kepadamu (Muhammad) sebagian kisah umat yang telah lalu, dan sesungguhnya telah Kami berikan kepadamu dari sisi Kami suatu peringatan (Al Qur’an).
dikutip dari
Rabu, 19 Maret 2014
tafsir surat al-fatihah
بِسْمِ اللَّهِ الرَّحْمَٰنِ الرَّحِيمِ
الْحَمْدُ لِلَّهِ رَبِّ الْعَالَمِينَ
الرَّحْمَٰنِ الرَّحِيمِ
مَالِكِ يَوْمِ الدِّينِ
إِيَّاكَ نَعْبُدُ وَإِيَّاكَ نَسْتَعِينُ
اهْدِنَا الصِّرَاطَ الْمُسْتَقِيمَ
صِرَاطَ الَّذِينَ أَنْعَمْتَ عَلَيْهِمْ غَيْرِ الْمَغْضُوبِ عَلَيْهِمْ وَلَا الضَّالِّينَ
1. dengan menyebut nama Allah yang Maha Pemurah lagi Maha Penyayang.
2. segala puji bagi Allah, Tuhan semesta alam.
3. Maha Pemurah lagi Maha Penyayang.
4. yang menguasai hari Pembalasan.
5. hanya Engkaulah yang Kami sembah, dan hanya kepada Engkaulah Kami meminta pertolongan.
6. Tunjukilah Kami jalan yang lurus,
7. (yaitu) jalan orang-orang yang telah Engkau beri nikmat kepada mereka; bukan (jalan) mereka yang dimurkai dan bukan (pula jalan) mereka yang sesat.
Tafsir Al – Fatihah
الْحَمْدُ لِلَّهِ رَبِّ الْعَالَمِينَ
Pujian bagi Allah subhanahuwata’ala dengan sifat-sifatnya yang sempurna disertai cinta, pengagungan, dan pemuliaan kepada-Nya
رَبِّ
Adalah yang di sembah, Sang Raja, dan Pengatur. Dia memelihara seluruh alam dengan berbagai macam pemeliharaan
الْعَالَمِينَ
Semua yang ada selain allah
الرَّحْمَٰنِ الرَّحِيمِ
Dua nama allah Subhanahuwata’ala yang menunjukan bahwa dia pemilik rahmat yang luas dan agung yang meliputi segala sesuatu dan mencangkup seluruh makhluk. Dialah Rahman dan Rahimnya dunia, Rahman dengan rahmat yang bersifat umum bagi seluruh makhlukNya dan Rahim khusus bagi orang mu’min sebagaimana firmannya
قُلِ ادْعُوا اللَّهَ أَوِ ادْعُوا الرَّحْمَٰنَ ۖ أَيًّا مَّا تَدْعُوا فَلَهُ الْأَسْمَاءُ الْحُسْنَىٰ ۚ
Katakanlah (Muhammad) : Serulah Allah atau serulah Ar Rahman!!! Mana saja yang kalian seru, maka baginyalah al asma’ al – husna ( nama-nama yang baik) itu (QS. Al – Isra : 110
مَالِكِ يَوْمِ الدِّينِ
Yang memiliki otoritas tunggal di hari perhitungan dan pembalasan, dimana semua makhluk diberi balasan atas amal perbuatan mereka. Allah Subhanahuwata’ala berfirman
وَمَا أَدْرَاكَ مَا يَوْمُ الدِّينِ
ثُمَّ مَا أَدْرَاكَ مَا يَوْمُ الدِّينِ
يَوْمَ لَا تَمْلِكُ نَفْسٌ لِّنَفْسٍ شَيْئًا ۖ وَالْأَمْرُ يَوْمَئِذٍ لِّلَّهِ
apakah kamau tahu tentang yaumuddin?! Lalu (sekali lagi) apakah kamu tahu tentang yaumiddin?! Hari yang tidaklah satu jiwa mampu berbuat sesuatu terhadap jiwa yang lain dan semua urusan pada hari itu bagi allah ( QS. Al – Infithar :17-19
Al malik adalah Dia yang bersifat dengan sifat – sifat agung dan sempurna yang pantas baginya memegang kerajaan. Dia menyandarkan kerajaan –Nya kepada hari perhitungan, karena allah memperhitungkan makhluknya pada hari itu akan amal perbuatan mereka dan membalasnya dengan adil
إِيَّاكَ نَعْبُدُ وَإِيَّاكَ نَسْتَعِينُ
Kami khususkan engkau sendiri wahai rabb kami dalam penyembahan dan memohon pertolongan. Kami tidak beribadah kepada selain-Mu, kami tidak memohon pertolongan selain-Mu. Ini adalah janji antara seorang hamba dan dengan tuhannya untuk tidak beribadah dan tidak memohon pertolongan kecuali kepada-Nya
اهْدِنَا الصِّرَاطَ الْمُسْتَقِيمَ
Tunjukilah kami dan berilah kami taufiq kepada jalan yang lurus yang tidak ada kebengkokan padanya, yaitu ilmu tentang kebenaran dan pengalaman yang dapat menyampaikan kepada Allah Subhanahuwata’ala surga dan pemuliaan-Nya
صِرَاطَ الَّذِينَ أَنْعَمْتَ عَلَيْهِمْ
Jalan orang-orang yang telah Engkau bernikmat bukan kepada mereka dengan hidayah dan taufiq untuk beriman dan istiqomah (komintmen) padanya. Mereka itu lah para nabi, shiddiqin, (orang-orang yang membenarkan), para syahid, orang-orang yang shaleh
غَيْرِ الْمَغْضُوبِ عَلَيْهِمْ
Mereka adalah orang-orang yang mengetahui kebenaran lalu meninggalkannya seperti yahudi dan semisalnya
وَلَا الضَّالِّينَ
Yaitu orang – orang yang tersesat dari kebenaran seperti nashara dan selainya, yakni orang-orang yang tidak memiliki ilmu. Mereka tersungkur dalam kesesatan dan tidak terpetunjuk kepada kebenaran
Keutaman surat Al – Fatihah
Sabda nabi pada Abu Sad Bin Al-Mu’ala
Sungguh saya akan mengajarkan padamu surat yang paling agung dalam al-quran sebelum kamu keluar dari masjid ini, beliau bersabda kepada-Nya “ Alhamdulillahi rabbil ‘alamin” (Maksudnya: Surat Al Fatihah
Kisah seorang yang disengat (kalajengking, dimana orang itu yang setelah dilakukan dengan ruqyah padanya, maka dia sembuh dengan izin allah,pent) , membari faedah pengetian bahwa surat Al Fatihah adalah obat yang meyembuhkan dan ampuh, serta ia adalah ruqyah Imam Al Bukhary telah meriwayatkannya
Dalam hadist meriwayatkan oleh Abu Hurairah, Nabi bersabda
“barang siapa yang shalat dengan suatu shalat, dimana dia tidak membaca padanya padanya Ummul Quran, maka shalatnya catat (nabi mengulangi kata ini tiga kali) tidak sempurna ( H R. Muslim)
Faedah yang dapat diambil dari Al Fatihah
Membaca Al Fatihah adalah salah satu rukun shalat sesuai dengan sabda nabi
“Tidak ada shalat bagi orang yang tidak membaca Fatihatul-Kitab”
Adapun bagi makmum, maka yang shahih adalah wajib, baik dalam shalat shirr maupun pada shalat jahr
[3] Surat ini mengandung perkara yang telah di sepekati oleh salaf dan imam mereka yaitu kaedah-kaedah yang mewajibkan iman kepada nama-nama allah dan sifat – sifat-Nya, dimana mereka menetapkan apa yang di tetapkan allah Ta’ala bagi diri-Nya (dan yang ditetapkan oleh Nabi Allah Ta’ala) serta menolak (nama-nama dan sifat-sifat yang Dia nafikan bagi diri-Nya) dan yang di nafikan Rosul-Nya dari-Nya tanpa merubah, menyamakan dengan makhluk, memberi permisalan atau membicarakan hakekat keadaan-Nya.
(Dikutip dari buku Ad Durusul Muhimmah Li Ammatil Ummah, Penerbit Cahaya Tauhid Press)
Langganan:
Komentar (Atom)